Thursday, August 27, 2020

Review: Film Tilik di Youtube. Kira-kira Apa Sih Zodiaknya?

Jadi beberapa hari ini Twitter gue rame dengan orang-orang yang ngetwit tentang film Tilik. Awalnya gue nggak ngeh pas ada yang ngetwit "Gojek = 1 penumpang, Gocar = 2-4 penumpang, Gotrek = satu kampung". Link film ini juga beredar nih di grup keluarga gue. Kenapa hype dah ini film? 


Hingga pada akhirnya hari ini, di antara kesakitan dipijet tukang pijet langganan, gue visit Youtube. Mayan nih ya kan film 32 menit buat mengalihkan rasa sakit otot kaku yang dipijet *yang ternyata tetep berasa sakit juga sih*.

Film tilik di youtube
source: Suara Jogja

Liat posternya. Pohon bambu sama ada truk kuning. Jangan-jangan film horor nih? Karena abis liat Twitter, nonton video seorang ibu nangis-nangis di deket pohon bambu sambil panggil anaknya. Kata caption-nya sih anaknya diambil kuntilanak dan cuma ibunya yang bisa liat. Sementara ada banyak yang bantuin tenangin ibu itu di video.


Well, kembali ke film Tilik. Seperti film-film pendek pada umumnya. Kisahnya sederhana tapi can relate bingit. Ibu-ibu dari desa pada pergi naik truk yang dikendarai Gotrek karena mau jenguk ibu lurah yang rawat di rumah sakit di kota. Sepanjang perjalanan diisi dengan dialog antara para ibu dan tentu saja ada satu orang yang jadi tokoh sentral, serunya tokoh ini antagonis yang super kompor. Selanjutnya, sinopsis bisa di-googling ya, karena yang mau gue bahas bukan filmnya ehehehe...

Melihat setiap karakter dalam film Tilik, gue jadi penasaran dan pengen bikin astro-cocok-logi ini.


Bu Tejo (Libra)

Zodiak karakter Bu Tejo film Tilik di YOutube
source: media.hitekno.com

Kesel ya sama praduga-praduga yang keluar dari mulut julidnya mulut Bu Tejo? Kalo ngomong tipe ngomporin ya! Tapi memang analisanya banyak benernya berdasarkan sosial media (bagus juga ini emak-emak up to date)... 

Ibu baju ijo toska ini juga agak-agak oportunis yaaa, sempet-sempetnya ngasih duit berbalut kampanye suaminya. Dan satu tagline di akhir film, "Kaya aku ngene lho, solutif!" yang 'nendang' banget.. jadi menurut gue zodiak si ibu ini adalah Libra (Kompor, analitis, oportunis, solutif alias mau gampangnya aja).


Yu Ning (Cancer / Taurus)

Zodiak karakter Yu Ning Film Tilik di Youtube
source: Milenianews

Melihat model keep positive thinking-nya Yu Ning terhadap praduga yang dilontarkan Bu Tejo dan empatinya pengen banget jenguk Bu Lurah, gue mikir dia agaknya Cancer nih. Agak-agak tukang samber juga, jadi kemungkinan Taurus yang keras kepala jadi zodiaknya Yu Ning.


Gotrek (Leo)

Zodiak karakter Gotrek Film Tilik di Youtube
source: Kompas.com

Sebagai satu-satunya lelaki yang kebagian banyak dialog di film ini, Gotrek kemungkinan adalah Leo. Sewaktu ibu-ibu adu komentar tentang Dian, dia sebenernya pengen ikutan komentar tapi takut ama istrinya yang duduk di kursi penumpang truk. Persis sifatnya Leo yang fear of missing out alias FOMO, hahaha! Hal yang lebih meyakinkan kalo dia Leo adalah sifatnya yang mauan. Karena di antara kendaraan pengangkut di desa, yang mau angkut ibu-ibu buat jenguk ya cuma Gotrek. Seperti Leo yang loyal dan susah menolak, yhaaa...


Dian (Gemini)

source: voxpop.id

Cantik kayak kebanyakan orang Gemini. Tapi sering kali digosipin karena misterius. Dan memang dugaan para ibu kepada Dian sebagai wanita 'nakal' jadi plot twist karena di akhir cerita dia malah menjalin hubungan sama mantan suami Bu Lurah...damn good.


Segitu aja kali ya review film Tilik yang gue telat banget nulisnya ini. Semoga lain kali bisa lebih tepat waktu untuk nulis. Akhir kata, silakan ditonton film Tilik di Youtube. Film pendek bagus yang menggelitik..dan ya itu, can relate to our society

Read More

Saturday, August 22, 2020

How Do I Get 25 Hours a Day?

Without question, we all have 24 hours a day. But to cover all my to-do list in a day, I need more than that. How do I get 25 hours a day?

Kenyataan bahwa satu hari nggak bisa diubah jumlah waktunya itu menyedihkan. Gue menyadari, gue butuh lebih dari 24 jam sehari. Kayaknya nggak cukup aja gitu untuk menyelesaikan seluruh agenda gue. Kurang menejemen waktu kali ya? 

HOW DO I GET 25 HOURS A DAY

Tapi kali lo yang baca ini bisa kasih masukan di komen untuk pembagian waktu sehari gue ini. Mulai dari...

8 jam = tidur (ini ga boleh kurang & dipotong-potong. Harus 8 jam full. Biar sehat fisik dan psikis).
1 jam = bangun tidur + sarapan + mandi (mandi gue cukup 10 menit, bersih kok bersih, ehe!).
1 jam = perjalanan ke kantor.
8 jam = kerja.
1 jam = istirahat.
1 jam = perjalanan pulang.

baru sampe sini, dari 24 jam gue udah kepake sekitar 20 jam. 

Artinya masih ada 4 jam lagi ya...
1 jam = mandi sepulang kerja (kalo pake keramas bisa 30 menit termasuk hair dryer) + makan malam.
1 jam = buat ngobrol sama orang-orang terdekat / nongkrong sama temen
2 jam = buat urusan domestik (ya masak, ya cuci piring, ya belanja, kadang mampir tempat cuci motor). Nggak menutup kemungkinan zoom meeting atau ngerjain lemburan *oh agency lyfe*

ABIS. OKE ABIS 24 JAM GUE ABISSS!!

kesel.

Kesel karena gue nggak punya waktu buat browsing berita-berita terkini. FOMO banget ya? Emang.
Kesel karena nggak sempet ngobrol sama orang-orang terdekat lebih lama lagi.
Kesel karena nggak bisa bercinta lebih santai *ya karena mikirin hanya ada 24 jam kali ya*
Kesel karena nggak sempet lagi lihat Youtube, buka social media, update hal seru, nonton Netflix.
Kesel karena pengen ngeblog, ngelanjutin online workshop pun nggak bisa lagi.
Satu lagi, kesel karena nggak bisa olahraga pagi! *ya ini antara niat dan ketersediaan waktu sih...*

Tapi kesimpulannya prioritas adalah semua dan tidak dapat dipilah-pilih lagi. 

Tidur, masak, Netflix adalah prioritas untuk tetap mencintai diri sendiri.
Kerja adalah prioritas untuk tetap bisa bertahan hidup dan belajar.
Plaju adalah prioritas untuk menunjang kerja.
Ngobrol dan bercinta adalah prioritas untuk tetap memenuhi hirarki Diagam Maslow.

Sejauh ini gue masih di tahap kesel-kesel sendiri sama waktu yang hanya ada 24 jam. Tapi barusan browsing sih, gimana caranya bisa punya 24 jam yang efektif? Baru lihat sekilas sih, karena gue pikir nggak semua yang ada di artikel can relate sama aktivitas gue setiap hari ya. Skeptis amat ya Letysia, hahaha!

Menyoal 24 sehari ini, sebenernya adil juga. Karena setiap orang punya jumlah yang sama dalam sehari. Tapi kenapa gue masih kurang aja ya? Kurang bersyukur ya?

Mikir begini akhirnya menyadarkan gue, di umur yang nggak muda lagi dan temen-temen udah masih sedikit, seharusnya gue bisa lebih tepat waktu untuk tiba kalo ada ajakan nongkrong. Karena semua orang punya 24 jam yang sama dan mereka bersedia meluangkan setiap menitnya untuk melihat gue hadir dan mendengarkan cerita-dan-lelucon-yang-tidak-selalu-lucu dari gue...
Read More

Monday, May 11, 2020

Brainstorming KV = Solving a Jigsaw Puzzle

Brainstorming is like solving a jigsaw puzzle. Kira-kira ini analogi gue buat kerjaan gue yang lagi menyenangkan banget. 

Brainstorming jigsaw puzzle


Nggak ngira deh gue bakal bilang kerjaan gue ini menyenangkan, hehehe. Tapi memang lagi semenyenangkan itu! Karena di pekan lalu tim gue lagi ngerjain sebuah pitching brand yang akan ngeluarin produk baru dan brand ini pengen dibuatin key visual-nya alias KV. 

Kenapa akhirnya gue bisa bilang asyik? Karena diskusi alias brainstroming-nya semenarik itu!!!

Ada istilahnya bikin route atau mungkin bisa diartikan kayak macem-macem arah komunikasi buat KVnya. Sejauh ini yang gue pelajari ya ada emotional dan functional. Emotional itu mengomunikasikan produk tanpa pakai kata-kata yang menjual keunggulan produknya. Sementara functional ya sebaliknya, langsung bilang produk ini hebatnya A atau B atau C. Dua komunikasi ini bisa dijabarin lagi jadi big idea

Menemukan route yang tepat ini kayak permainan puzzle. Crack semua kemungkinan ide yang bisa jadi arah komunikasi, terus dijabarin satu-satu. Kayak lagi nyelesein puzzle 3600 pieces yang gambarnya kayak The Starry Night - Van Gogh. 

Lukisan ini kan didominasi warna biru, banyak tapi bergradasi. Sama kayak brainstorming, vibe komunikasinya bisa bergradasi juga. Pada akhirnya biar masing-masing ide terjalin dan berhasil menggambarkan arah komunikasi yang lengkap. Walau harus dibongkar pasang. Mix and match terus sampai gambarnya utuh alias komunikasinya sampai di target audience. Jadi pas orang ngeliat iklannya itu langsung paham, "Oh ada produk ini yang bisa bikin gue begini atau ternyata isinya tuh begini!". Gitu kira-kira dah!

Do something great motivation


Jadi menurut gue kerja di agency itu cocok buat lo yang suka main puzzle, hidden objects, atau ya catur gitu deh. Atau bisa juga buat lo yang suka cerita detektif. Analisa asyik sambil diskusi. Ngebuka wawasan baru. 

Ya semoga aja pitching-an ini berhasil menang yaaa...! Dan semoga juga good vibes kayak gini terus bisa gue rasain, bukan di masa-masa 'honeymoon' alias tiga bulan pertama kenalan sama kerjaan ini :) 

Semangat terus tim!


Read More

Sunday, February 2, 2020

Forget an Ex, Love and Hate Memories

Pernah nggak sih, kenangan bareng mantan muncul lagi ketika lo pakai suatu barang? Atau dalam sebuah situasi lo yang pernah dilewati bareng mantan? Mungkin sebuah tempat di mana lo pernah nge-date sama mantan?

Kenangan ini cukup mengganggu gue lagi nih. Beberapa kali gue nyetir sendiri, tiba-tiba kangen momen bareng-bareng di mobil. Ya pegangan tangannya, ya ciumannya, ya lagu yang kita dengerin bareng waktu ke luar kota. Juga cerita Ikan Mulut Kecil yang pernah dia ceritain di bawah jalur MRT ke Fatmawati. 

Sekarang gue agak males bawa mobil besar itu sendirian. Mau nggak mau, solusinya mending naik yang mobil yang lain kalau pas lagi ada atau bareng temen biar ada yang diajak ngobrol. Atau milih nggak pergi sama sekali. 

Kasur di kamar. Barang ini juga sering menimbulkan kenangan bareng mantan yang Leo tapi ada Gemininya itu. Nggak mungkin ganti kasur sih. Jadi, mau nggak mau berdamai dengan situasi ini sendirian. Caranya? Kasur hanya akan dihinggapi ketika gue udah ngantuk banget. Relaksasi nafas sebagai pendistraksi. Berhasil? Sering kali gagal dan berakhir dengan peluk guling aja sampai ketiduran. 

Kenapa sih kenangan-kenangan gini tuh muncul dari dalam otak? Nggak bisa ya otak ini diprogram otomatis untuk menghapus bagian-bagian yang memang bener-bener udah nggak guna? Bagian otak mana sih yang masih menyimpan kenangan?

Memangnya nggak bisa ya kalau kontak, social media, dan segala jalur komunikasi udah dihapus, kenangannya juga otomatis terhapus?



Read More

Monday, December 23, 2019

Thank You, Rintik Sedu

Rintik Sedu, apa atau siapa? Tidak penting wujudnya kayak gimana, tapi yang jelas gue sangat berterimakasih pada semesta karena mempertemukan gue dengan podcast ini di Spotify. Kemarin malam. 

Sayang...cuma ada 8 atau 10 episode gitu. Ketika habis, gue jadi kepo ke media sosialnya. Ketemu akun Twitternya. "Oh yang ini orangnya," kata gue dalam hati tadi siang di kantor. "Kelahiran 1998, buset masih muda banget!"

Agak nakal ya dengerin podcast di jam kantor, tapi mari memaafkan diri sendiri karena hari ini bos udah cuti. Artinya gue bisa kerja lebih konsentrasi walau sambil pakai earphone dengerin musik. Alih-alih dengerin Rapot, podcast kesayangan gue itu, gue malah pilih Rintik Sedu ini. Dengerin lagi episode terakhir yang judulnya "orang sedih". Persis mewakili perasaan gue akhir-akhir ini. Anjir bocah kelahiran '98 bisa-bisanya punya pemikiran dan merasuki jiwa gue, manusia superior yang hampir kepala 30. 

Dimulai dari "Saya nggak tau mau ngomong apa". Dalam hati kecil gue nyaut, "Wah bakal random nih!" Makin lama, makin mewakili perasaan gue. Dengar setiap kata dari monolognya yang dirangkai cerdas, berima (sesuai kesukaan gue). Hebat orang ini, kata-katanya bisa jadi quote banget, padahal ngomongnya ngawur!

"Orang sedih itu nggak perlu saran, nggak perlu, nggak perlu pelukan, nggak perlu denger lagu buat ngerasa aman. Orang sedih, orang sedih cuma butuh tau kalo dia nggak sendirian." Terima kasih sudah mewakili perasaan gue. Sosok yang dalam diri ini kayaknya lagi sedih, tapi terlalu gengsi buat ngaku. 

Lebih hebat lagi, suara Rintik Sedu ini mampu membius. Bikin ngelamun, berhasil membuat gue berhenti sejenak dari kerjaan gue tadi. Padahal semalem waktu hujan deres, episode "orang sedih" juga udah gue nikmatin dengan seksama sambil rebahan. Tapi ya itu, suaranya terlalu candu. Percaya nggak, sambil nulis blog ini gue sambil pake earphone dengerin episode yang sama? :) Sekarang udah masuk ke episode "balik bentar" nih.. 

Udah ah, gue mo mau game di HP lagi. Post blog kali ini sebenernya hanya salah satu upaya gue menjadi bahagia. Iya 'bahagia', sebuah kata yang kayaknya udah lama nggak gue rasain. You know, bahagia yang benar-benar merasa BAHAGIA. 

Mungkin dengan menulis blog, gue menemukan lagi bahagia. Karena berbagi hal yang membuat gue bahagia. Sebuah aktivitas yang sudah lama banget nggak gue lakukan. Semoga menulis ini terapi yang beneran bisa membuat gue menemukan lagi bahagia yang sesungguhnya. 

Cheers!
















Read More