Thursday, December 8, 2011

On The Right Track

Suatu malam gue bilang ke nyokap bahwa kalau gue ditanya apakah gue menyesal kuliah komunikasi, gue dengan pasti akan jawab: tidak.

Love cartoon!
Awal-awal kuliah gue sempet bete. Kenapa sih gue sampe masuk komunikasi? Merasa terjeblos ke fakultas yang salah, iya banget! Apalagi materi-materi awal tentang teori komunikasi, aduh ini mah bisa banget dipelajari sehari-hari. Tiap hari juga berkomunikasi, ngobrol, sms-an, facebook-an (eh jaman itu FB masih kalah pamor dari FS). Apalagi yang dibahas komunikasi sesama teman, keluarga, pacar, ah ini mah bisa banget deh dipraktekin tiap hari. Apa susahnya tinggal ngomong a b c d lalu dijawab e f g h. Masih ngomong sama manusia juga toh, bukan sama hewan. Communication is not cool at all!!

Akhirnya semester 3 gue penjurusan. Masih juga bete sama jurnalistik. Sudah milih masuk jurnal, masih gamang juga kenapa milih fakultas komunikasi yang di kampusnya cuma ada 2 penjurusan, kenapa nggak ada periklanan, broadcasting. Gue pikir, anjir harusnya gue masuk hukum atau hubungan internasional atau nggak dokter gigi yang kuliahnya nggak selama kedokteran umum. Dan gue ini termasuk golongan lulusan IPA penghianat, lulus SMA nggak ambil kuliah yang jurusan ada eksaknya. Bodo, gue masuk IPA karena gengsi juga sih. Dulu SMA juga hobi remedial, selain kimia sih hehehe. 

Lanjut semester 4. Eh ternyata jadi jurnalis seru juga. Jalan-jalan cari berita, ketemu orang baru, mainan kamera, berpacu dengan momen berita. Udah mulai banyak prakteknya di semester ini, nggak melulu teori. Sampe semester 6. Kadang gue pikir kurikulum kampus gue itu kok diulang-ulang terus ya, matakuliah yang udah didapat ilmunya di semester 4 harus lagi diulang di semester 5 dan 6. Rada ngebosenin kadang, bikin gue jadi super sotoy di kelas. 

Ternyata gue dapat asik sendiri dengan pola kerja jurnalis yang mainan kamera, ketemu orang baru, diburu waktu. Bahwa kalau gue tadinya milih jurusan yang bakal kerja di balik meja, mungkin gue frustasi lalu bunuh diri (oke, lebay). Gue suka ketika gue harus mengejar sesuatu, tubuh gue bergerak kesana kemari, ada mechanic skill yang gue lakukan. Dari sini jadi jelas banget gue mau kerja apaan nantinya. Bukan di balik meja dan conceptual skill.
My backpack

Sekarang, gue berjanji sama diri sendiri. Suatu hari nanti gue akan kerja pada bidang kerjaan yang emang gue sukai, gue dapat nikmati, gue enjoy sampai tidak merasa pekerjaan itu beban. My career likes a backpack, not a rolling bag. Bahwa hambatan dan beban dari karir itu dipanggul di pundak, jadi terasa lebih enteng dari pada harus ditarik dengan satu tangan. Jadi terasa, "Ya, ini bagian dari karir dan ini nikmat kok."

Momok semester ini fufufu
Hingga kemudian gue menyadari bahwa karir di depan mata itu nggak bisa dianggap sebagai ladang uang lho. Kerjaan jurnalis nggak ada yang bikin kaya. Pure jurnalist nggak ada yang tajir! Sedangkan gue juga nggak mau bego-bego amat mengubur obsesi 'muda hura-hura, tua foya-foya, mati masuk surga' gue cuma karena jadi jurnalis. Dan akhirnya gue kepikiran aja jadi pengusaha! Pengusaha apaan? Ntar aja gue ceritain pas gue lagi nggak kepepet waktu tidur. Besok mau ke UI, bray! Demi skripsi ini. Walalala....


0 comments:

Post a Comment